Sejarah Unik Swedia – Swedia hari ini dikenal dunia sebagai negara Nordik yang damai, rumah bagi perabotan minimalis IKEA, pelopor kesejahteraan sosial, dan salah satu tempat paling bahagia di bumi. Namun, jika kita memutar jarum jam ke masa lalu, Anda akan menemukan lembaran sejarah yang jauh dari kesan “adem ayem” tersebut.
Bukan sekadar kisah Viking yang menjarah atau kejayaan Raja Gustavus Adolphus di medan Perang Tiga Puluh Tahun, Swedia menyimpan barisan anekdot sejarah yang aneh, menggelikan, sekaligus mencengangkan yang jarang masuk ke dalam buku pelajaran sekolah.
Mari kita selami lorong waktu dan melihat sisi lain Swedia yang jarang diketahui orang.
1. Ketika Swedia Mengobarkan Perang Terpanjang dalam Sejarah (Melawan Kota Kecil di Spanyol)
Semua orang tahu tentang Perang Seratus Tahun antara Inggris dan Prancis, tetapi tahukah Anda bahwa Swedia Slot Hongkong pernah terlibat dalam “perang” yang berlangsung selama 172 tahun melawan sebuah kota kecil di Spanyol bernama Huéscar? Yang lebih gila lagi: tidak ada satu butir peluru pun yang ditembakkan, dan tidak ada satu nyawa pun yang melayang.
Kisah absurd ini bermula pada tahun 1809 selama Perang Semenanjung. Saat itu, Napoleon Bonaparte sedang mengobrak-abrik Eropa. Swedia bersekutu dengan Spanyol untuk melawan Prancis. Namun, situasi politik berubah cepat; Swedia tiba-tiba dipaksa menandatangani perjanjian damai dengan Napoleon.
Mendengar kabar “pengkhianatan” ini, dewan kota Huéscar di Andalusia, Spanyol, merasa sangat marah. Dengan penuh keberanian (dan sedikit emosi yang impulsif), kota berpenduduk beberapa ribu jiwa ini secara resmi menyatakan perang sendirian terhadap Kerajaan Swedia.
Masalahnya, setelah deklarasi perang itu ditandatangani, semua orang melupakannya. Swedia bahkan tidak pernah tahu kalau mereka sedang berperang dengan sebuah kota kecil di pedalaman Spanyol.
Fakta Unik: “Perang” ini baru resmi berakhir pada tahun 1981, ketika seorang sejarawan lokal menemukan dokumen deklarasi tersebut. Sadar bahwa mereka telah “berperang” selama hampir dua abad, Walikota Huéscar dan Duta Besar Swedia akhirnya bertemu untuk menandatangani perjanjian damai. Acara tersebut dirayakan dengan pesta anggur dan persahabatan, mengakhiri konflik paling pasif di dunia.
2. Raja Adolf Frederick: Tewas Akibat “Pemberontakan” Makanan Manis
Dalam sejarah dunia, raja-raja biasanya mangkat karena pembunuhan, penyakit pes, atau gugur di medan laga. Namun, Raja Swedia Adolf Frederick (yang memerintah dari tahun 1751 hingga 1771) memilih jalan fana yang jauh lebih… mengenyangkan. Ia dikenal dalam sejarah sebagai “Raja yang Makan Dirinya Sendiri hingga Mati.”
Pada hari Selasa, 12 Februari 1771, Raja Adolf Frederick duduk untuk menikmati makan malam yang awalnya tampak biasa bagi seorang raja zaman itu. Namun, porsinya sungguh luar biasa. Sang raja melahap lobster, kaviar, sauerkraut, daging asap, dan ikan hering haring.
Jika Anda berpikir itu sudah cukup untuk membuat perut meledak, Anda salah. Untuk pencuci mulut, sang raja meminta makanan favoritnya: Semla (roti manis khas Swedia yang diisi dengan pasta almond dan krim kocok). Tidak tanggung-tanggung, ia menyantap 14 porsi semla yang disajikan dalam mangkuk berisi susu hangat.
Malam itu juga, sang raja mengalami gangguan pencernaan yang sangat hebat, diikuti oleh kram perut akut yang akhirnya merenggut nyawanya. Kematian ini mengguncang kerajaan, bukan karena ada konspirasi politik, melainkan karena seluruh negeri harus berkabung atas seorang raja yang dikalahkan oleh roti manis bertabur gula.
3. Sistem Pajak Janggut yang Absurd dan Larangan Kopi
Swedia saat ini adalah salah satu konsumen kopi terbesar di dunia. Namun, pada abad ke-18, kopi dianggap sebagai musuh masyarakat nomor satu oleh Raja Gustav III. Sang raja sangat yakin bahwa kopi adalah racun yang memperpendek umur manusia.
Untuk membuktikannya, Gustav III melakukan apa yang kini dikenal sebagai salah satu eksperimen sains pertama di Swedia—meskipun metodenya agak kejam. Ia mengubah hukuman mati sepasang saudara kembar menjadi penjara seumur hidup dengan satu syarat:
- Kembaran pertama wajib minum tiga teko kopi setiap hari.
- Kembaran kedua wajib minum tiga teko teh setiap hari.
Dua orang dokter ditunjuk untuk mengawasi siapa yang akan mati duluan. Hasilnya? Kedua dokter tersebut meninggal duluan karena usia tua. Raja Gustav III sendiri tewas dibunuh pada tahun 1792. Bagaimana dengan si kembar peminum kopi? Ia hidup sehat walafiat hingga usia 83 tahun, jauh melampaui saudara kembarnya yang minum teh. Larangan kopi ini akhirnya dicabut setelah pemerintah sadar bahwa rakyat Swedia lebih memilih menyelundupkan kopi secara ilegal daripada hidup tanpa kafein.
Selain kopi, Swedia di bawah pemerintahan Raja Charles XI juga sempat menerapkan Pajak Janggut. Terinspirasi dari sekutunya di Rusia, Peter yang Agung, pria Swedia yang ingin memelihara janggut harus membayar pajak khusus. Jika menolak, janggut mereka akan dicukur paksa di depan umum oleh petugas kerajaan.
4. Vasa: Kapal Perang Paling Megah yang Karam dalam 20 Menit
Bayangkan membangun sebuah kapal perang terbesar, paling canggih, dan paling mahal di masanya, lengkap dengan 64 meriam perunggu dan ratusan patung ukiran yang dilapisi emas. Itulah Vasa, kebanggaan Raja Gustavus Adolphus yang diluncurkan pada 10 Agustus 1628.
Ribuan rakyat Stockholm berkumpul di dermaga, bersorak melepas kapal raksasa ini berlayar untuk meneror angkatan laut Polandia. Vasa membentangkan layarnya, bergerak anggun, dan baru berlayar sejauh… 1.300 meter (kurang dari satu mil).
Tiba-tiba, embusan angin sepoi-sepoi berembus. Karena desain kapal yang terlalu tinggi dan kurangnya pemberat di bagian bawah (akibat ego raja yang terus meminta penambahan meriam di dek atas), kapal itu miring. Air mulai masuk melalui lubang-lubang meriam yang terbuka bawah. Dalam waktu kurang dari 20 menit, kapal super itu tenggelam ke dasar laut Stockholm, menewaskan sekitar 30 awak kapal.
Sisi Positifnya: Karena air Laut Baltik yang dingin dan minim oksigen, kapal Vasa tidak membusuk. Pada tahun 1961, kapal ini diangkat kembali dari dasar laut dalam kondisi 95% utuh. Kini, kegagalan teknik terbesar dalam sejarah Swedia itu justru menjadi salah satu objek wisata paling populer dan menguntungkan di Museum Vasa, Stockholm.
5. Abad ke-17: Ketika Swedia Menjadi Negara Adidaya Militer yang Ditakuti
Bagi kita yang hidup di abad ke-21, sulit membayangkan Swedia sebagai negara militer yang agresif. Namun pada abad ke-17, era yang dikenal sebagai Stormaktstiden (Era Kekuatan Besar), Swedia adalah salah satu imperium militer paling ditakuti di Eropa.
Mereka memiliki pasukan infanteri yang disebut Caroleans (Karoliner). Pasukan ini terkenal dengan taktik ofensifnya yang ekstrem dan radikal. Di saat pasukan negara lain menembak dari jarak jauh, pasukan Caroleans dilatih untuk terus berjalan maju menembus hujan peluru tanpa menembak balik, hingga mereka berada dalam jarak 20 meter dari musuh. Baru setelah itu mereka melepaskan tembakan serentak yang menghancurkan psikologis lawan, lalu menyerbu dengan bayonet.
Puncak dari kegilaan militer ini terjadi pada tahun 1658, ketika Raja Charles X Gustav memimpin pasukannya melakukan aksi nekat: berjalan kaki menyeberangi laut yang membeku (Selat Belt) untuk menyerang Denmark dari arah yang sama sekali tidak disangka. Aksi perjudian alam ini berhasil memaksa Denmark menyerahkan sepertiga wilayahnya kepada Swedia.
Kesimpulan: Warisan dari Masa Lalu yang Eksentrik
Sejarah Swedia membuktikan bahwa di balik modernitas dan ketenangan masyarakat Skandinavia saat ini, terdapat fondasi masa lalu yang penuh dengan eksperimen aneh, keputusan raja yang eksentrik, dan drama yang melampaui nalar.
Dari perang tanpa peluru melawan kota kecil Spanyol, tragedi roti manis yang mematikan, hingga kapal perang yang tenggelam karena tiupan angin, Swedia mengajarkan kita bahwa sejarah tidak selalu ditulis dengan tinta emas kejayaan, melainkan sering kali diwarnai oleh komedi dan ironi manusia.
Bagian mana dari sejarah rahasia Swedia ini yang menurut Anda paling tidak masuk akal?